Writing adalah salah satu keterampilan dalam bahasa inggris yang sering dianggap sebagai suatu keterampilan yang sulit diikuasai. Tetapi, kemampuan menulis (writing) yang baik dan benar merupakan kebutuhan para profesional maupun mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, industri dan banyak bidang lainnya.

Saya sering mendengar keluhan dari para pelajar tentang keterampilan yang satu ini.  Komentar seperti “Vocabnya saya kurang banyak Om”, atau “Saya takutgrammarnya salah, nanti malah jadi bahan olok-olokan” atau juga “Iya, nanti kalau punya waktu deh, saya akan belajar dengan intensif”, merupakan isyarat bahwa kemampuan kita orang Indonesia dalam membuat writing masih kurang dibanding dengan negara-negara maju lainnya.

Nah, apakah ini ada hubungannya dengan minat baca orang Indonesia yang konon masih rendah? Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Jerman dan Inggris dikenal sebagai negara-negara yang memiliki minat baca yang sangat tinggi, dan ternyata ketika suatu negara memiliki minat baca yang tinggi, maka teknologi di negara tersebut juga rupanya lebih tinggi dibanding dengan negara-negara yang lainnya.  Sebagai contoh,  Jepang selain sebagai bangsa yang dikenal sebagai pekerja keras, juga mempunyai minat baca yang tinggi.  Tidak aneh mereka memiliki industri dan teknologi yang tinggi.  Sebut saja Honda, Suzuki, Toyota dan sederet pabrikan kelas dunia lainnya. Sementara itu, apa ya merek mobil buatan Indonesia?

 

Sekarang, apakah kita bisa melihat adanya hubungan yang terselubung antara minat baca dan kemajuan suatu negara? Saya yakin jika bangsa kita memiliki minat baca yang tinggi, atau dikondisikan sedemikian rupa sehingga bangsa kita menjadi bangsa yang haus membaca, maka taraf kehidupan bangsa kita pun akan berubah dengan drastis.

Dan bagaimana dengan minat baca orang Indonesia?  Salah satu sumber menyatakan tidak lebih dari 3 buku yang dibaca per tahun, itu pun juga kalau dananya tersedia.

Fakta dari lapangan, alih-alih membeli buku, anggaran belanja biasanya diprioritaskan untuk membeli pulsa, ponsel, gadget dll. Ironis bukan?  Bahkan di salah satu artikel “Pikiran Rakyat” mengenai spending salah satu universitas di Jawa Barat, dikatakan bahwa para mahasiswa lebih mengutamakan membeli pulsa daripada membeli buku, fantastis!

Sumber lain juga mengatakan bahwa di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Perancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swis 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.” (www.republika.co.id)

Lalu apa hubungannya membaca dan menulis? Semakin banyak buku yang dibaca oleh seseorang, maka semakin banyak pengetahuannya, semakin luas wawasannya. Artinya dia akan memiliki inspirasi yang cukup luas untuk dituangkan ke dalam sebuah tulisan yang argumentatif.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita dapat mengasah kemampuan writing kita. Rumusnya adalah 15 P. Yaitu: Practice, Practice, Practice,…(15X). Ya, dengan berlatih terus, maka dengan sendirinya keterampilannya akan berkembang. Ibarat seorang bayi yang berusaha untuk berdiri tegak untuk pertama kalinya. Menurut sebuah penelitian, seorang bayi terjatuh bangun sampai 35.000 kali sampai akhirnya ia sanggup berdiri untuk pertama kalinya. Nah, apalagi untuk writing…pada saat bayi tersebut berhasil berdiri, maka ia akan berjalan, kemudian berlari.  Belum pernah ada kan dalam sejarahnya bayi yang lahir langsung dapat berlari?  Ya, semuanya membutuhkan proses. Seperti kita belajar mengayuh sepeda, it is always difficult to do it for the first time, namun ketika sudah mahir, kita bisa bersepeda sambil lepas tangan. Hebat, bukan?

Jadi, untuk meningkatkan kemampuan menulis, kita perlu berlatih dengan tekun, sabar dan disiplin. Disiplin di sini tidak dalam artian yang kaku, selama kita terus berlatih setiap hari. Writing bisa kita lakukan sambil menunggu lunch misalnya, atau mau curhat, atau daftar belanja, atau sekedar membuat cerita ringan, atau mungkin kita mau bereksperimen menerjemahkan sebuah artikel yang menarik?

Jadi, bagaimana solusinya? Begini saja. Besok, ketika kita bangun tidur, mulailah rencanakan hari kita di atas kertas, kali ini, pakai bahasa Inggris. Dan ketika kita sampai kantor, mulailah membuat agenda, namun kali ini, tuliskan dengan bahasa Inggris. Ketika pulang, mungkin kita merasa bete, mulailah isi diary kita. Tapi kali ini dengan menggunakan bahasa Inggris. Kalau kita konsisten dalam melakukan hal ini, saya yakin, day by day, kita akan semakin dan semakin mahir saja dalam mengekspresikan gagasan kita dalam bahasa Inggris. Jangan takut membuat kesalahan, to err is human (melakukan kesalahan adalah manusiawi). Selamat mencoba! Semoga bermanfaat.

Sumber:

http://mjeducation.co/tips-membuat-tulisan-berbahasa-inggris-writing/

About CintaDewi

My name is Cinta Dewi Andini, I am the first child of two sister. Inspiration in my life is my family, especially my parents. They are my life and my life for them. I am a student at STKIP Pasundan Cimahi of English Education. This blog is created for STKIP Pasundan Cimahi, my beloved campus. Finally, my principle is "Where there is a will there's a way".

Comments are closed.